BAB I
PEMBAHASAN
1.1 Jenis
Membaca
Dalam keterampilan membaca ada dua jenis membaca yang
dapat kita lakukan yaitu membaca dalam hati dan membaca nyaring. Kedua jenis
kegiatan membaca ini merupakan kegiatan inti yang umum dilakukan di kelas
sehingga pembelajaran tentang kedua hal ini sangat diperlukan sebagai bekal
mahasiswa dan mahasiswi ketika sudah menjadi tenaga pendidik di MI.
1.1.1
Membaca Nyaring
Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan
menyuarakan tulisan yang dibacanya dengan ucapan dan intonasi yang tepat agar
pendengar dan pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis,
baik yang berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis. Karena
membaca nyaring mengutamakan teknik-teknik membaca lisan tersebut, maka membaca
nyaring sering disebut pula dengan membaca teknik. Sebagai contoh membaca
nyaring membaca cerita, membaca puisi, membaca berita, dan sebagainya.
Crawley dan Mountain (1995) menjelaskan bahwa membaca
nyaring hendaknya mempunyai tujuan tertentu tidak menggunakan format round robin. Yang dimaksud dengan format
round robin ialah setiap siswa secara
random mendapat giliran untuk membaca nyaring satu paragraph. Membaca nyaring
dengan format ini menyebabkan siswa kurang menyimak apa yang dibaca temannya,
padahal menyimak merupakan keterampilan yang harus diajarkan pada siswa. Siswa
sebenarnya mengikuti kata-kata yang dibaca temannya untuk meyakinkan tempat
bacaan yang tepat untuk giliran mereka. Siswa juga mengantisipasi paragraph
mana yang menjadi gilirannya, sementara temannya membaca nyaring. Pada setiap
situasi, siswa akan lebih memfokuskan pada pengenalan kata, menyandi kata (decoding) daripada menyimak isi dan
memahami apa yang sedang dibaca siswa lain. Oleh sebab itu, guru hendaknya
memberikan informasi tentang tujuan membaca nyaring tersebut.
Terkait dengan pendapat Crawley dan Mountain, Rubin
(1993) menjelaskan bahwa kegiatan yang paling penting untuk membangun
pengetahuan dan keterampilan berbahasa siswa memerlukan membaca nyaring.
Membaca dengan tujuan untuk apresiasi dan rekreasi dilaksanakan dalam suasana
santai. Membaca dengan teliti dan hati-hati dibangun dengan latihan-latihan
yang direncanakan dengan hati-hati terutama membaca materi bacaan yang bersifat
informatif.
Keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah
berbagai kemampuan, diantaranya adalah :
a.
menggunakan
ucapan yang tepat,
b.
menggunakan
frase yang tepat,
c.
menggunakan
intonasi suara yang wajar,
d.
dalam
posisi sikap yang baik,
e.
menguasai
tanda-tanda baca,
f.
membaca
dengan terang dan jelas,
g.
membaca
dengan penuh perasaan dan ekspresif,
h.
membaca
dengan tidak terbata-bata,
i.
mengerti
serta memahami bahan bacaan yang dibacanya,
j.
kecepatan
bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya,
k.
membaca
dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan, dan
l.
membaca
dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
Gruber
(1993) mengemukakan lebih rinci manfaat dan pentingnya membaca nyaring untuk
anak-anak tersebut seperti dijelaskan berikut :
a. memberikan
contoh kepada siswa proses membaca secara positif,
b. mengekspos
siswa untuk memperkaya kosa katanya,
c. memberi
siswa pengalaman baru,
d. mengenalkan
kepada siswa aliran sastra yang berbeda-beda, dan
e. memberi
siswa kesempatan menyimak dan menggunakan daya imajinasinya.
1.
Membaca
Dalam Hati
Membaca dalam hati adalah kegiatan membaca yang dilakukan
dengan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibacanya.Rothlein
dan Meinbach (1993) mengemukakan bahwa kegiatan membaca dalam hati yang dikenal
denga istilah Sustained Silent Reading (SSR)
atau Uninterupted Sustained Reading Time
(USRT) adalah salah satu komponen dari sekian banyak program membaca.
Terkait dengan pendapat Rothlein dan
Meinbach, Haris dan Sipay (1980) mengemukakan bahwa telah terjadi perubahan
yang lebih cepat melalui membaca dalam hati. Dengan kata lain, siswa yang kemampuannya
di atas rata-rata kelas atau pembaca yang baik dapat memahami suatu bacaan
lebih baik dengan membaca dalam hati.
Keterampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati antara lain sebagai
berikut:
a.
membaca
tanpa bersuara, tanpa bibir bergerak, tanpa ada desis apapun,
b.
membaca
tanpa ada gerakan-gerakan kepala,
d.
tanpa
menggunakan jari atau alat lain sebagai penunjuk,
e.
mengerti
dan memahami bahan bacaan,
f.
dituntut
kecepatan mata dalam membaca,
g.
membaca
dengan pemahaman yang baik, dan
h.
dapat
menyesuaikan kecepatan dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bacaan.
Secara garis besar, membaca dalam hati dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu membaca
ekstensif dan membaca intensif. Berikut
penjelasan secara rinci kedua jenis membaca tersebut :
a.
Membaca Ekstensif
Membaca
ektensif merupakan teknik membaca secara cepat tanpa mengurangi pemahaman inti
bacaan.Membaca ektensif bertujuan untuk menemukan atau mengetahui secara cepat
masalah utama dari teks bacaan.Objek membaca ektensif meliputi sebanyak mungkin
teks dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Membaca
ekstensif disebut juga sebagai teknik membaca cepat.Membaca cepat adalah
membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan
pemahamannya.Biasanya kecepatan itu dikaitkan dengan tujuan membaca, keperluan,
dan bahan bacaan. Ada beberapa teknik dalam membaca ekstensif, diantaranya
sebagai berikut:
1) Teknik
baca-pilih (selecting)adalah membaca
bahan bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggap mengandung informasi yang
dibutuhkan.
2) Teknik
baca-lompat (skipping) adalah membaca
dengan melakukan lompatan-lompatan membaca. Maksudnya, bagian bacaan yang
dianggap tidak sesuai dengan keperluan atau sudah dipahami tidak dihiraukan.
3) Teknik
baca-layap (skimming) adalam membaca
dengan cepat (sekilas) untuk memperoleh gambaran umum isi buku atau bacaan
lainnya secara menyeluruh.
4) Teknik
baca-tatap (scanning) adalah suatu
teknik pembacaan sekilas cepat, tetapi teliti. Dimaksudkan untuk memperoleh
informasi khusus dari bacaan.
Membaca ekstensif meliputi :
1)
Membaca Survei (Survey Reading)
Membaca survei adalah kegiatan membaca untuk mengetahui secara sekilas
terhadap bahan bacaan yang akan dibaca lebih mendalam. Kegiatan membaca survai
merupakan pendahuluan dalam membaca ekstensif. Yang dilakukan seseorang ketika
membaca survei
adalah sebagai berikut :
a)
memeriksa
judul bacaan/buku, kata pengantar, daftar isi dan melihat abstrak,
b)
memeriksa
bagian terahkir dari isi (kesimpulan), dan
c)
memeriksa indeks dan apendiks.
2)
Membaca
Sekilas
Membaca sekilas
adalah kegiatan membaca
dengan mengandalkan kecepatan gerak mata dalam melihat dan memperhatikan bahan tertulis
yang dibacanya. Ada tiga tujuan dalam membaca sekilas, yakni
sebagai berikut:
a) untuk
memperoleh suatu kesan umum dari suatu bacaan,
b) untuk
menemukan hal tertentu dari suatu bacaan, dan
c) untuk
menemukan atau menempatkan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan.
Adapun
metode yang digunakan dalam
melatihkan membaca cepat adalah :
a) metode kosakata; metode yang berusaha untuk menambah
kosakata.
b) metode motivasi; metode yang berusaha memotivasi
pembaca(pemula) yang mengalami hambatan.
c) metode gerak mata; metode yang mengembangkan kecepatan
membaca dengan menigkatkan kecepatan gerak mata.
Hambatan-hambatan yang dapat mengurangi kecepatan mambaca
:
a)
vokalisai
atau berguman ketika membaca,
b)
membaca
dengan menggerakan bibir tetapi tidak bersuara,
c)
kepala
bergerak searah tulisan yang dibaca,
d)
subvokalisasi;
suara yang biasa ikut membaca di dalam pikiran kita,
e)
jari
tangan selalu menunjuk tulisa yang sedang kit abaca,
dan
f)
gerakan
mata kembali pada kata-kata sebelumnya.
3)
Membaca Dangkal (Superficial Reading)
Membaca dangkal pada hakekatnya bertujuan untuk memperoleh
pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu
bahan bacaan. Membaca jenis ini biasanya dilakukan seseorang membaca demi
kesenangan, membaca bacaan ringan yang mendatangkan hiburan, kegembiraan sebagai pengisi waktu senggang,
misalnya cerita lucu, novel ringan, dan catatan harian.
b. Membaca Intensif
Membaca intensif atau intensive
reading adalah membaca dengan penuh penghayatan untukmenyerap apa yang
seharusnya kita kuasai. Dalam membaca intensif diperlukan
pemahaman mengenai detail atau perincian isi bacaan secara mendalam. Yang
termasuk dalam membaca intensif adalah :
1) Membaca Telaah Isi :
a) Membaca Teliti
Membaca jenis ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka sering kali
seseorang perlu membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.
b)
Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman (reading
for understanding) adalah sejenis membaca yang bertujuan untukmemahami
tentang standar-standar atau norma- norma kesastraan (literary standards), resensi kritis(critical review), dan pola-pola fiksi (patterns of fiction).
c) Membaca Kritis
Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan
secara bijakasana, mendalam, evaluatif,dengan tujuan untuk menemukan
keseluruhan bahan bacaan, baik makna baris-baris, makna antar baris, maupun
makna balik baris.
d) Membaca Ide
Membaca ide adalah sejenis kegiatan membaca yang ingin
mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide- ide yang terdapat pada bacaan.
e) Membaca Kreatif
Membaca kreatif adalah kegiatan membaca yang tidak hanya
sekedar menagkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secara
kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.
2)
Membaca
Telaah Bahasa :
a) Membaca Bahasa (Foreign Language Reading)
Tujuan utama membaca bahasa adalah memperbesar daya kata
(increasing word power) dan mengembangkan kosakata (developing vocabulary)
b) Membaca Sastra (Literary Reading) Dalam membaca sastra
perhatian pembaca harus dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra.
Apabila seseorang dapat mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu
karya sastra maka semakin mudah dia memahami isinya serta dapat membedakan
antara bahasa ilmiah dan bahasa sastra.
B.
Tingkatan Membaca
Menurut Gray dalam Harris dan Sipay ada lima
tingkatan membaca adalah sebagai berikut :
a. Kesiapan
membaca (readiness for reading)
b. Permulaan
membaca (rapid to read)
c. Pengembangan
kecepatan keterampilan membaca (rapid
deve-lopment of reading skill)
d. Membaca
luas (wide reading)
e. Perbaikan
membaca (refine-ment of reading)
Menurut Gillet dan Temple ada lima
tingkatan membaca, yaitu :
1. Timbulnya
pemahaman baca tulis (emergent literacy)
2. Membaca
permulaan (beginning reading)
3. Pembinaan
kelancaran membaca (building fluency)
4. Membaca
untuk kesenangan dan belajar (reading for
pleasure/reading to learn)
5. Membaca
matang (nature reading)
Berdasarkan kedua
pendapat tersebut, oleh Syafi’ie membaca dikelompokan menjadi duatingkatan ,
yaitu :
1. Membaca
permulaan
Membaca permulaan dalam pengertian ini
adalah membaca permulaan dalam teori keterampilan, maksudnya menekankan ada
proses penyandian membaca secara mekanikal . Membaca permulaan yang menjadi
acuan adalah membaca merupakan proses recoding
dan decoding .
Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambar-gambar bunyi beserta
kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya . Proses ini melibatkan knowledge of the worlddalam schemata
yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan
dalam gudang ingatan .
Menurut La Barge dan Samuels proses
membaca permulaan melibatkan 3 komponen, yaitu :
a. Visual memory
Pada tingkat visual memory, huruf, kata
dan kalimat terlihat sebagai lambing grafis .
b. Phonological memory
Pada tingkat ini terjadi proses
pembunyian lambing . Lambang tersebut juga dalam bentuk kata dan kalimat .
c.
Semantic
memory
Pada tingkat ini terjadi proses
pemahaman terhadap kata dan kalimat .
Selanjutnya
dikemukakan bahwa untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan 3 syarat ,
yaitu kemampuan membunyikan :
a. Lambang-lambang
tulis
b. Penguasaan
kosakata untuk memberi arti, dan
c. Memasukan
makna dalam kemahiran bahasa .
Tujuan membaca permulaan adalah agar
siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat .
2. Membaca
Lanjut
Tujuan
membaca lanjut adalah agar siswa dapat memahami bahasa orang lain yang tertulis
serta menambah pengetahuan dan mengembangkan emosi anak . Dalam membaca lanjut
dikenal metode membaca teknik, membaca dalam hati, termasuk didalamnya membaca
cepat, membaca pemahaman dan sebagainya .
Pada membaca lanjut berdasarkan ke
komplekan kognitif dalam memahami bacaan dibedakan antara membaca Literal dan membaca
tingkat tinggi . Pemahaman tingkat tinggi mencakup pemahaman interpretative,
pemahaman kritis dan pemahaman kreatif . Pemahaman kritis dan kraetif dapat
digolongkan ke dalam pemahaman evaluative . Pengelompokan tingkatan membaca
selengkapnya dari Burn, Roe, dan Ross :
a. Literal
comprehension (pemahaman literal)
Pemahaman
literal adalah kemampuan menangkap informasi yang dinyatakan secara tersurat
dalam teks . Cochran menjelaskan bahwa pemahaman literal mencakup rincian yang
terdapat teks, rujukan kata ganti, dan urutan peristiwa dalam cerita .
b. Interpretatif
comprehension (pemahaman interpretative)
Menurut Hafni dan Tollefson pemahaman
interpretative sebagai pemahaman reorganisasi dan inferensial . Adalah
pemahaman makna antar kalimat atau makna tersirat atau penarikan kesimpulan
teks . Pemahaman interpretative mencakup penarikan kesimpulan tentang gagasan
utama dari suatu teks, hubungan sebab akibat yang dinyatakan secara tidak
langsung dalam teks, rujukan kata ganti, rujukan kata keterangan dan kata-kata
yang dihilangkan .
c. Critical
comprehension (pemahaman kritis)
Pemahaman kritis atau evaluative
merupakan kemapuan mengevaluasi materi teks . Pemahaman evaluative terdapat
dalam kegiatan membaca kritis . Pemahaman kritis bergantung pada pemahaman
literal, pemahaman interpretative, dan pemahaman gagasanpenting .
d. Creative
comprehension (pemahaman kreati)
Pemahaman kreatif merupakan tingkatan
yang paling tinggi dalam membaca . Dalam proses pemahaman kreatif ini, pembaca
mengembangkan pemikiran-pemikirannya sendiri untuk membentuk gagasan-gagasan
baru, mengembangkan gagasan baru, pendekatan-pendekatan baru, serta pola-pola
pikirnya sendiri .
C. Strategi Mmembaca
Strategi adalah ilmu dan kiat dalam
memanfaatkan sumber yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan .
Dalam upaya untuk memperoleh pemahaman teks dapat menggunakan berbagai macam
strategi yang berkaitan dengan factor-faktor tang terlibat dalam pemahaman, yaitu
pembaca teks dan konteks itu sendiri .
Dalam teori membaca dikenal beberapa
model-model strategi mebaca, diantaranya sebagai berikut :
1. Strategi
Bottom-Up
Strategi bottom-up umumnya digunakan pada pembelajaran kelas awal, dan juga
digunakan jika dalam memahami teks yang mempunyai tingkat kesulitan yang
tinggi. Dalam pengajaran membaca diawali dengan memperkenalkan nama-nama dan
bentuk huruf kepada siswa juga memperkenalkan gabungan-gabungan huruf menjadi
suku kata lalu menjadi kata dan terakhir menjadi suatu kalimat.Metode yang
digunakan dikenal sebagai metode eja.
2. Strategi
Top-down
Strategi top-down adalah kebalikan dari strategi bottom-up, latar belakang pengetahuan menjadi suatu variable yang
sangat penting karena di sini siswa belajar membaca dalam tataran tinggi. Dalam
model ini, prosesnya dimulai dengan ide bahwa pemahaman itu terletak pada
pembaca.Tujuan dari modek ini adalah kegiatan yang sifatnya mengembangkan makna
dan tidak pada penguasaan pemahaman kosakata.
3. Strategi
Interaktif
Model interaktif menggabungkan
elemen-elemen pada model sebelumnya.Asumsinya bahwa sebuah pola itu
disintetiskan atas dasar informasi yang diberikan secara bersamaan dari
berbagai sumber pengetahuan. Menurut Neil Anderson model interaktif ini adalah
model yang paling tepat untuk diterapkan karena model ini juga merupakan
gambaran yang paling baik mengenai apa yang terjadi ketika membaca. Karena itu,
membaca sebenarnya adalah gabungan proses bottom-up
dan top-down.
Dari
strategi-strategi membaca yang telah dijelaskan di atas, selanjutnya dapat
diturunkan menjadi teknik atau metode membaca . Berikut ini secara khusus
dibahas metode membaca permulaan dan beberapa metode membaca lanjut .
1.
Metode Membaca Permulaan
Membaca permulaan
bertujuan agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan
intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk membaca lanjut . Untuk melaksanakan
pengajaran membaca permulaan, telah dikembangkan beberapa metode seperti
berikut :
a. Metode eja/abjad
Pelajaran membaca dimulai dengan pengenalan abjad a, b,
c, dan sebagainya . Selanjutnya abjad-abjad itu dirangkaikan huruf konsonan dan
vokal menjadi suku kata . Selanjutnya suku kata dirangkai menjadi kata, dan
kata dirangkai menjadi kalimat .
b. Metode bunyi
Dalam metode ini huruf-hurufnya tidak disebut dengan nama
abjadnya melainkan bunyinya.
c. Metode kupas rangkai suku kata
Dimulai dengan pengenalan suku kata . Setelah siswa mampu
membacanya, suku kata itu dirangkaikan menjadi kata dengan menggunakan tanda
penghubung .
d. Metode lembaga kata
Anak diperkenalkan beberapa kata-kata, yang salah satunya
adalah kata lembaga, yaitu kata yang dikenal oleh siswa, kemudian kata itu
diuraikan menjadi suku kata, lalu diuraikan menjadi huruf .
e. Metode global
Anak diperkenalkan beberapa kalimat, setelah siswa dapat
membacanya, salah satu kalimat diambil untuk diuraikan . Mula-mula kalimat
diuraikan menjadi kata, kemudian kata diuraikan menjadi suku kata, dan akhirnya
suku kata diuraikan menjadi huruf-huruf .
f. Metode SAS (Struktur Analitik Sintetik)
Dilaksanakan dalam dua periode, pertama ialah periode
tanpa buku dan kedua dengan buku . Pada periode membaca permulaan tanpa buku,
urutan pembelajaran belangsung sebagai berikut :
1) merekam bahasa anak;
2) bercerita dengan gambar;
3) membaca gambar;
4) membaca gambar dengan kartu kalimat;
5) proses struktural;
6) proses analitik; dan
7) proses sintetik . Setelah periode tanpa buku, selanjutnya
periode membaca dengan buku .
2.
Membaca Metode Lanjut
Untuk membaca lanjut, juga dikembangkan
sehumlah metode/teknik . Ada beberapa metode yang biasa digunakan dalam
pengajaran membaca yang dapat dimodifikasi sesuai dengan pokok bahasan yang
ada, diantara teknik-teknik berikut :
a.
Metode
pengajaran membaca dengan SQ3R
Sistem membaca SQ3R diperkenalkan oleh
Francis P. Robinson tahun1941, mer upakan sistem yang semakin banyak
dipergunakan orang . Sistem ini menggunakan lima langkah yaitu :
i.
Survey
(S) yang berarti meninjau, meliputi, menjajaki yaitu dengan jalam membaca
bagian permulaan buku, seperti halaman judul, kata pengantar, daftar isi,
judul/sub bab, indeks, glosarium dan lain-lain .
ii.
Questin
(Q) sebelum memulai kegiatan membaca, hendaknya pembaca merumuskan
pertanyaan-pertanyaan sebagai informasi focus yang akan memandu pembaca pada
saat melakukan aktivitas baca sesungguhnya
iii.
Read
(R-1) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan pada tahap ke 2
tadi, lalu dilanjutkan dengan kegiatan membaca yang sesungguhnya . Pembaca
tidak diharuskan membaca dengan kecepatan yang sama . Hal ini sangat ditentukan
oleh tujuan dan karakteristik bahan bacaan yang dihadapi .
iv.
Read
(R-2) kegiatan menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca hal ini
dilakukan setelah pembaca yakin bahwa sejumlah pertanyaan yang dirumuskan
sebelumnya telah terpenuhi yang disertai dengan pembuatan ikhtisar .
v.
Read
(R-3) memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami pembaca .
b.
Metode
Scramble
Pada prinsipnya metode ini menghendaki
siswa untuk melakukan penyusunan atau pengurutan suatu struktur bahasa yang
sebelumnya dengan sengaja telah dikacaukan . Sesuai dengan jawabannya scramble
ini ada beberapa bentuk , yaitu :
1)
Scramble
kata, yaitu sebuah permainan menyusun kata-kata dari huruf yang telah
dikacaukan letak huruf-hurufnya . Sehingga membentuk suatu kata tertentu yang
bermakna .
2)
Scramble
kalimat, yaitu sebuah permainan menyusun kalimat dari kata-kata acak yang
dibentuk secara logis, bermakna, tepat dan benar .
3)
Scramble
wacana, yaitu sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan
kalimat-kalimat acak yang disusun sehingga bermakna dan logis .
c.
Metode
Membaca Cepat
Ada dua teknik membaca cepat yang harus
dikuasi , yaitu skimming dan scanning . Skimming adalah upaya untuk mengambil
intisari dari suatu bacaan , berupa ide pokok . Scanning adalah teknik membaca
cepat untuk memperoleh suatu informasi tanpa membaca yang lain, tetapi langsung
ke masalah yang dicari, yang berupa fakta khusus atau informasi tertentu .
Pengukuran kecepatan efektif membaca
adalah mengukur kedua aspek tersebut,yaitu dengan cara-cara berikut ini :
1)
Mengukur
kecepatan membaca (KM) dengan cara menghitung jumlah kata yang terbaca tiap
menit. Prosesnya yaitu :
KM = Jumlah kata yang dibaca
Jumlah waktu (menit)
2)
Pemahaman
isi bacaan (PI) secara keseluruhan dengan cara menghitung persentase skor
jawaban yang benar atas skor jawaban ideal dari pertanyaan-pertanyaan tes
pemahaman bacaan . Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut :
PI = Skor jawaban yang benar x 100%
Skor jawaban ideal
3)
Untuk
mengukur KEM seseorang, kedua aspek tersebut harus diintegrasikan . Sehubungan
dengan hal ini , Tampubolon mengemukakan rumus pengukuran kemampuan membaca
sebagai berikut :
KM =
KB x PI . KPM
SM:60 100
KM :
Kemampuan membaca
KB :
Jumlah kata dalam membaca
SM:60 : Jumlah
waktu membaca
PI :
Presentase pemahaman isi bacaan
KPM : Jumlah
kata permenit
BAB
II
KESIMPULAN
Keterampilan
membaca merupakan modal utama bagi siswa . Dengan bekal kemampuan tersebut,
siswa dapat mempelajari ilmu lain, dapat mengkomunikasikan gagasannya , dan
dapat mengekspresikan dirinya . Secara garis besar, membaca dibagi atas dua
jenis membaca, yaitu membaca nyaring atau teknik dan membaca dalam hati .
Membaca nyaring atau membaca teknik adalah kegiatan membaca yang dilakukan
dengan cara menyuarakan lambang-lambang bunyi, yang dilakukan dengan tujuan dan
teknik-teknik tertentu . Sedangkan
membaca dalam hati memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami teks yang
dibacanya secara lebih mendalam .
Selain jenis
membaca , dalam membaca juga terdapat tingkatan tertentu . Tingkatan dalam
membaca terdapat dua macam yaitu, membaca permulaan dan membaca lanjut .
Membaca permulaan dalam teori keterampilan, maksudnya menekankan pada proses
penyandian membaca secara mekanikal . Sedangkan membaca lanjut agar siswa dapat
memahami bahasa orang lain yang tertulis serta menambah pengetahuan dan
mengembangkan emosi anak .
Dalam upaya untuk
memperoleh pemahaman teks dapat menggunakan berbagai macam strategi yang
berkaitan dengan faktor-faktor yang terlibat dalam pemahaman , yaitu pembaca
teks dan konteks itu sendiri . Dalam teori membaca dikenal beberapa model-model
strategi membaca yang meliputi strategi bottom-up,
top down, dan strategi interaktif .
DAFTAR PUSTAKA
Jauharoti, Alfin, dkk. 2008. Bahasa Indonesia I. Edisi
Pertama. Surabaya : Learning assistance Program For Islamic School (LAPIS)
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar